Liza Sako – Lebih Pilih Sebagai Orang Palembang

admin 18/03/2012 0

Sumatera Ekspres – Penduduk Kota Palembang mencapai 1,7 juta jiwa. Dari jumlah ini, terbagi dalam berbagai suku bangsa. Salah satunya keturunan negara Jepang. Di Metropolis, kelompok ini menjadi yang minoritas. Bahkan, cenderung semakin berkurang setiap tahunnya.

Namun, perhatian pemerintah Jepang terhadap keturunannya masih dirasakan sampai sekarang. Salah satunya dengan pengecekan kesehatan gratis. Sumatera Ekspres berbincang dengan salah satu keturunan Jepang yang masih menetap di kota Pempek ini.

MENGENAKAN kemeja putih, Liza Sako terkesan modis dalam penampilannya. Saat ditemui wartawan Sumeks di Pempek Beringin Jl Radial, ia tengah bersama rekan-rekannya dari Jakarta. Liza Sako sendiri, merupakan asli keturunan Jepang. Darah Jepang-nya, diturunkan dari Ayahnya. Sementara ibunya adalah keturunan Sunda. Percampuran dua budaya berbeda ini, menghasilkan dua anak. “Ayah ketemu sama Ibu di Bandung. Saat itu Ayah ditugaskan mengajar dari Kedutaan Jepang untuk membantu Universitas Sriwijaya (Unsri),” ujar bungsu dari dua bersaudara pasangan Satosi Sako (alm) dan Rng Eti Sako (alm).

Kedatangan ayahnya ke Indonesia pada tahun 1974. Saat itu, ayahnya aktif di lembaga bahasa Jepang di Unsri. Ayahnya, juga buka kursus bahasa Jepang. Yang pernah menjadi muridnya seperti Hermanto Wijaya, Owner Jaya Raya Elektronik, Mahyudin, ketua Komisi X DPR RI dan lainnya.

Liza Sako

“Saat ujian, ayah mendatangkan langsung native speaker langsung dari Jepang. Supaya prakteknya benar-benar teruji,” jelas Liza seraya mengatakan setelah ayahnya meninggal tahun 2005, kursus bahasa Jepang tersebut tutup. Selain belajar bahasa, juga pengenalan budaya Jepang, origami dan sebagainya. Gratis pengajaran di rumahnya.

Selain itu, saat ayahnya masih hidup, sejumlah warga keturunan Jepang dan pengunjung dari negeri sakura tersebut dikoordinir langsung olehnya. Bahkan, berbagai kegiatan setiap akhir pekan selalu digelar pada kediaman warga asal Jepang tersebut. Sifatnya giliran dengan tujuan mempererat silaturahmi di antara mereka.

“Acaranya ya makan bersama kuliner Jepang, tapi dibuat bersama-sama antara mereka. Kemudian karaoke lagu-lagu Jepang, main golf bersama dan lainnya. Semua anggota keluarga saat itu diajak kumul bersama,” ungkap perempuan kelahiran Palembang, 21 Juni 1976 ini

Namun, seluruh warga asal jepang tersebut tak selamanya menetap di Palembang. Hingga ayahnya meninggal, tak ada lagi yang mengkoordinir warga Jepang yang datang ataupun keturunan Jepang. “Saya nggak tahu ada berapa yang keturunan Jepang atau yang tinggal di Palembang. Yang saya tahu mungkin tinggal 3 orang lagi saat ini,” ungkapnya tanpa mau menyebutkan namanya.
Menurutnya, sekitar 1980-an lalu hingga tahun 2000-an, jumlah warga Jepang dan keturunannya cukup banyak. Rata-rata, mereka buka usaha di bidang kayu. “Kalau sekarang sudah nggak ada lagi, kita juga tidak tahu apakah kembali ke negara asalnya atau di kota lainnya,” bebernya.

Ia juga mengetahui, ayahnya dulu selalu mendampingi kunjungan warga asal Jepang melayat ke pemakaman di Talang kerikil. Biasanya, dilakukan upacara untuk menghormati jasad keluarganya yang meninggal di Palembang pada masa penjajahan dulu, meski jenazahnya belum diketahui letaknya.

“Setelah melakukan ritual, mereka wisata kuliner di Palembang, makan pempek dan makanan khas lainnya. Juga kunjungan ke tempat bersejarah lainnya di kota ini, melihat Jembatan Ampera dan sebagainya,” ungkapnya. Menurutnya, saat ini tak ada yang mengurus tentang hal itu lagi.

“Kalau dulu solid perkumpulan keluarga Jepang. Bahkan ada Palembang Asosiasi Jepang Indonesia (Pasji),” katanya. Pasji itu sendiri, mewadahi sejumlah warga negara Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. “Sebenarnya sayang juga nggak ada persatuannya lagi,” ungkap Liza.

Meski keturunan Jepang, ia tak mau disebut sebagai orang Jepang. “Tapi, kalau ditanya orang, saya ngaku orang Palembang karena cinta dengan kota ini,” bebernya. Diakuinya, ia pernah beberapa kali ke Jepang. Saat itu, dirinya masih remaja. Meski begitu, dirinya masih berkomunikasi dengan saudaranya di Jepang. “Paling via email dengan mereka,” bebernya.

Diakuinya, saat dua orang tuanya masih hidup, setiap hari ibunya memasak masakan Jepang. “Jarang masak makanan nusantara,” bebernya. Namun, setelah orang tuanya tak ada, dirinya tak sempat membuat. “Karena sudah ada restaurannya, kita pilih ke sana,” bebernya.

Tempat makan khas Jepang menjadi favorit ia dan ketiga anaknya saat kumpul bersama. “Kita kadang ke Nobu Bistro,” kata Liza. Komunikasi tiga bahasa menjadi kenangan baginya saat orang tuanya masih hidup. Bahasa Jepang, Indonesia dan Sunda selalu digunakan saat komunikasi dengan setiap orang dirumahnya.

“Kalau sama Ayah pakai bahasa Jepang, dengan Ibu bahasa Sunda atau Indonesia,” bebernya. Hingga saat ini, ia mengaku masih bisa menggunakan bahasa Jepang tersebut. “Bisa, tapi nggak pernah digunakan,” bebernya. Nama ketiga anaknya, masih berbau Jepang. Yang pertama adalah Ryoma Sako (12). Nama ini, mengambil dari tokoh komando perang asal Jepang, Sakamoto Ryoma. Yang kedua, Syoma Sako (10) karena lahir di tahun kuda yang berarti kuda terbang. Terakhir, adalah Hikari Sako (8) yang berarti nur atau cahaya. “Semuanya, Ayah berikan nama,” jelasnya.

Meski di Palembang tak pernah lagi mengadakan pertemuan sesama keturunan Jepang, di tingkat nasional masih dilakukan melalui Asosiasi Jepang Indonesia (Asji). “Biasanya kita dapat undangan. Tapi, ketika ada acara pergantian duta besar untuk Indonesia, konsul jenderal yang baru atau acara lainnya saja. Acara itu hanya untuk mengetahui siapa yang menggantikan posisi yang lama. nggak tentu tiap tahun,” bebernya.

Dari merekalah, nantinya ada pendataan untuk warga keturunan Jepang. Pemerintah Jepang, hingga saat ini masih konsen terhadap mereka yang merupakan keturunan Jepang. “Tiap tahun ada tes kesehatan gratis dari pemerintah Jepang. Seluruh isi rumah di keluarga Jepang tersebut yang diperiksa, termasuk pembantunya walau bukan keturunan,” ungkapnya.
Namun, syarat pemeriksaa tersebut dilakukan apabila ada minimal 5 kepala keluarga (KK) di suatu daerah. “Kalau punya penyakit, nanti direkomendasikan ke rumah sakit,” tambahnya.

Liza sendiri, saat ini aktif di Humas PT BJLS, Diektur Romi Herton Foundation dan persatuan alumni SMA Xaverius 3 Palembang. Sebisa mungkin, waktu luang yang dimilikinya diberikan pada anak-anaknya. “Kalau ada waktu luang kita berenang, makan, main Timezone, nonoton atau kegiatan lainnya,” imbuhnya.

Leave A Response »

UNTUK PEMASANGAN IKLAN HUBUNGI EMAIL: info@aboutpalembang.com atau HP: 0819842190 atau PIN BB: 23B7E72C